“SBY!!”
Bukan, kami bukan fanatik pak presiden. Maksud dari istilah di atas adalah: Subhanallah Banget Yaa
, saat kita kagum dengan si A yang masuk universitas sana-sini lewat
jalur PMDK-lah, teteh B yang wah banget perangainya buat dijadikan
teladan, si C yang bisa bikin catatan yang udah mah rapi, bergambar,
warna-warni pula (kerajinan banget), atau sekedar soal fisika yang
rumitnya selangit, dipecahkan dengan mudahnya oleh Pak Tata. Ya, SBY
menjadi ekspresi kekaguman kami waktu itu.
Memang, penggunaan Subhanallah ini
seringkali kita gunakan untuk mengekspresikan kekaguman kita terhadap
kebesaran Ilahi. Di lain pihak, saat kita melihat sesuatu yang buruk,
acapkali kita mengucapkan “Masya Allah..ko bisa sih begitu?”. Ekspresi
semacam itu sudah lumrah banget di mata kita, orang Indonesia.
Tapi cobalah bertemu dengan muslim di
negara lain. Kalau bisa mungkin bercakap-cakap (yakali dis, kalo bisa
bahasanya). Seperti pengalaman Moh. Fauzil Adhim atau yang lebih dikenal
dengan @kupinang di twitter,saat berkesempatan untuk bercengkrama
dengan muslim asli Arab. Maksud hati memuji, tapi tanggapan yang
didapatkan justru sebaliknya.
“AstaghfiruLlahal ‘Adhim; ‘afwn Ustadz; kalau ada yang bathil dalam diri & ucapan ana; tolong segera Ant luruskan!”
Kira-kira seperti itu tanggapannya. Nah loh, kenapa bisa gitu? Yuuk kita lihat harfiahnya satu per satu.
Subhanallah, terdiri dari kata Subhan dan Allah. Kata Subhan sendiri asal katanya adalah sabh, yang berarti tidak tercampuri.
Subhan Allah atau Subhanallah (سبحان الله) berarti Maha Suci Allah.Kata ini berasal dari sabh, tidak tercampuri, atau tasbih, membuat semuanya seperti suci. arti secara harfiahnya adalah Tuhan tidak tercampuri. Ada juga bagian yang menambahkan "tidak tercampuri dari segala kebathilan".
Subhanallah, Maha Suci Allah. Nah, kapan
kira-kira kita harus mengingatkan diri kita, berdzikir bahwa Allah Maha
Suci, bahwa Allah satu-satunya Dzat yang terbebas dari segala khilaf
yang tercela?
Mengenai Masya Allah. Untuk mengetahui artinya, ada baiknya kita tengok arti dari sebuah ayat:
“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.”
(QS. al-Kahfi 18:39)
Ya, jika diterjemahkan, Masya Allah
kurang lebih berarti Allah Maha Berkehendak. Pertanyaannya adalah,
apakah ketika kita melihat sebuah keburukan atau musibah terjadi,
“sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud” merupakan ekspresi yang
tepat?
Entah sejak kapan salah kaprah ini
bermula. Yang jelas, saat kita telusuri lagi maknanya, kita akan
menemukan betapa ngga matchingnya penggunaan dua frase ini di Indonesia.
Ingin penjelasan yang lebih komprehensif? Salim A. Fillah pernah membuat kultwit mengenai hal ini, yang dapat disimak di sini.
sumber: http://titiksenyap.wordpress.com/2012/02/01/subhanallah-dan-masya-allah-di-indonesia-salah-kaprah/