Oleh: Agus Halimi *)
"Dan
hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang
berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil
menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung)
keselamatan.(QS Al-Furqan,25: 63)
Manusia itu
terdiri atas jasmani dan ruhani, yang harus dipenuhi kebutuhannya dan
dipelihara stabilitasnya secara seimbang. Kita sering mengisi dan
mengasah otak kita dengan ilmu pengetahuan, tapi kita melupakan ruhani
kita dengan siraman ruhani (agama), baik aqidah, ibadah, maupun akhlak.
Padahal, manusia disebut insan karena ruhaninya, bukan jasmani semata.
Ada faktor yang menyebabkan manusia menolak kebenaran dan bersikap takabur/sombong kepada manusia lain:
Pertama, pengaruh harta kekayaan, tokoh yang ditampilkan Al-Qur-an, diperankan oleh Qarun.
Sesungguhnya
Karun adalah termasuk kaum Musa[1138], maka ia berlaku aniaya terhadap
mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta
yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang
kuat-kuat. (QS Al-Qashash: 76)
Kedua, pengaruh ilmu pengetahuan, yang diwakili oleh Haman, seorang menristeknya Firaun.
Dan
berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang
tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (37). (yaitu) pintu-pintu
langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku
memandangnya seorang pendusta".. (QS Al-Mu’min:36-37)
Ketiga, pengaruh kekuasaan yang ditampilkan Al-Quran dalam sosok Firaun sendiri.
Firaun (seraya) berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi".(QS al-Nazi’at: 24)
Itulah
gambaran Al-Quran tentang tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan yang
tinggi dan terhormat di tengah-tengah masyarakatnya, baik lantaran ilmu,
kekayaan, dan kekuasaan, tetapi tidak dibarengi dengan bimbingan ruhani
yang bersifat keagamaan. Bahkan, mereka cenderung menentang dakwah dan
ajaran agama yang dibawa Nabi Musa dan Harun.